Sunday, 31 July 2011

Rumah Kaca Tanpa Nama

Semut-semut merayapi kulit sunyi di bawah awan pekat dibelai angin yang berat
Daun-daun kering di jalanan kusam menuju sebuah pintu
Denting asa,

kelepak harap yang tadi pagi bertengger di jendela alit rumah kaca,
denting rasa, 
denting dusta, 
kelepak sayap yang tadi sore seputih cerah matanya.

Tinggal tersisa detik-detik yang berdecit malas mendorong nafas ragu-ragu, 

detak abu-abu, 
rebah satu-satu,
lelap buru-buru.

Malam jadi sekutu rindu yang tak tahu malu, mengurai jarak jadi guna-guna,

namun sia-sia menangkap makna, masih juga berlari tak tahu diri,
berharap dapat gantikan matahari pagi yang membasuh putih cerah matanya.

Kegelisahan tak beraturan menemukan rumahnya dalam kata-kata, rumah kaca tanpa nama, sebuah impromptu dalam bentuk kalimat yang beku.

Beku oleh rindu tak menentu.


31 juli 011

Friday, 15 July 2011

Antika

Dalam maya langkahku dosa, memungut warna menyulam jiwa
Kau kibar pelangi sendiri, tak satu langit pernah punyai

Aku cemburu pada kupu-kupu, aku cemburu bunga-bunga layu, aku cemburu jalanan kuyu

Tanpa perlu mengetuk rindu
Mereka mampu undang hatimu

Andai nafasku tinta, namamu lembar perangkap asa

Andai denyutku kata, pandangmu buka sekitab prosa
Andai senyummu dusta, aku tak mau tahu
Andai aku ada untuk kau rasa

Landai, landai harapku bertumpu sayu di landai haru

Memuji harum langkah pudarmu dikejar waktu
Adalah tak mungkin
Bagi debu bersanding ratu

Dadaku taman seribu kuncup rindu, kusulam senyum tanpa kata

Tataplah aku!
Dan baca yang kurasa!

- Untuk Antika -

15 juli 011
00.44 wib

Thursday, 14 July 2011

Layar Pucat

Layar itu memucat kawan
Disapu angin tak diundang
Mabuk rona tak bernama

Bilamana aku lokan, telah redam aku dimakan lautan

Sudah banyak cerita, banyak luka aku tuak dalam dada
Masih juga aku bujang di depan cinta

Layar itu pucat wahai angin, gemetaran memandang rona disana

Adalah tak pasti kapan hidup disapa mati
Tapi bukan itu aku risaukan, aku takut mati membawa hati yang tak pasti
Telak dibuat koyak oleh cinta sendiri

Sudah banyak cerita, sudah punah banyak warna

Masih juga, aku pucat diremuk rasa. 




14 juli 011

Saturday, 9 July 2011

Nyala Sunyi

Dadaku rebah dalam gelisah, aku nyawa tanpa darah
Kau selusupi waktu dan taburi tiap jengkal batu dengan rindu
Namamu tumbuh jadi kenanga, jadi dahlia, jadi sakura yang menari dihempas keras kegelesihanku
Bertambah indah seiring lukaku menganga curiga: ingin menatapmu lebih lama
Aku kini makam personaku sendiri
Aku kini panggung, pesonamu menari

Bukan kau wahai tubuh!
Puisiku untuk keindahan sang Ruh!
Sajakku untuk pesona yang mengguruh!
Cemerlang dalam rahasia, tersulam dibalik daging dan muka

Aku kini nisan kewarasanku yang rapuh!
Aku kini api, kau bara kau suluh!
Kita satu dalam nyala sunyi!

9 juli 011

Wednesday, 15 June 2011

Daun Yang Memerah

Daun yang memerah, lambaikan sekilas rindu pada putih mataku
Sendu ini sudah lelah bergumam sendiri, ia terbang dan menghilang
Tinggalkan jejak yang tak sudi kubaca, hitamku telah reda
Aku sudah jadi setengah Dewa, sepenuh gila, penuh dengan Cinta.

Merah bagai daun Maple
.

15 juni 2011

Thursday, 10 February 2011

Fluktuasi

Salju dalam jalanan yang berserakan
menuai langkah yang kutanam dalam-dalam
Roda pacuku telah jadi ular yang kedinginan
melingkar kehilangan, meraba kenangan

Senja abu-abu
mengangkat lengan harimu ke alam ragu
waktu
terus menikam kita dengan lembutnya,
Kucuran darahmu menuliskan hangat
yang lama kurindu

Lukiskanlah jalan bagi semua hewan untuk transit
bagai Noah, derita membentuk bahteranya sendiri
mengangkut dua hal berlawanan dalam satu dada
yang sama

Kau, jadikan ketololanku sebagai pena
yang mensastrakan dukaku jadi lagu
mengiringi tandu-tandu yang mengusung jejak
langkahku
menembus abu
sang waktu

Tema dunia
adalah tentang memuja perubahan
dan menjagal stagnansi masa kini

Saat banjir mereda
tanah yang kita jejak adalah konstruksi surga
penuh potensi tak terbatasi
imaji

Hari ini taman kita adalah taman duri
esok atau kelak namun pasti
Warna api nyalakan wangi mawar
dan melati

10 Feb. 011

Monday, 8 March 2010

Inclusive

Alas, kita punya sayap dalam renungan yang panjang ini
tapi kau masih mengunyah dedaunan sepi

Jangan buang baumu duhai sunyi
kita memang lahir untuk begini, begitu nyeri dan terbebani
mengapa tersentak saat temukan remuknya senyuman?
airmata juga punya bahan obrolan

Buanglah kata bijakmu, filosofimu, islamhindukristenbudha-mu
apa guna jika senyumpun hatimu tak mampu?

Kelak pengap yang kau sesakan dalam dada tak berbunyi lagi
kala kau mengerti, hidupmu bukan untukmu sendiri

Sunday, 6 December 2009

Hilang Dalam Malam

Kau tahu
Hatiku meleleh bersama malam
bersama senja yang melemah


Kau tahu
kala detik menunjukan
betapa cita tua dan renta


Aku tak tahu
bahwa hatiku punya pagi
tapi detik tak tunjukan
dimana tempat cinta dalam hati
ku

Saturday, 31 October 2009

Berserah Asa



Bukankah malam harusnya memulangkan burung-burung pada sarang
namun hati masih mengembara antara sela dedaunan dalam petang
Bilakah dusta? Ketenangan yang membisik dalam hasrat tak terucap
diamku adalah langit tanpa purnama; awan-awan yang menggelap.

Sudut ruang yang kuhias remang kegundahan
Engkau tak datang meski umurku penuh rayuan
luapkan ragu yang mengusik rangkakkan do'a
mengudara bagai nyawa tak berharga

Tetapi detak masih setia menjunjung titah
ketika kutanya, jawabmu "itulah hadiah"
membakar kembali kedua langkah yang hampir patah
tak bertulang jiwa ini, tak dia mengenal lelah

Kubelah sungai darah demi janji sepetak lapang
diamku adalah renungan,
sepetak asa yang meregang.

Thursday, 29 October 2009

Perjalanan

Ah, jika sebuah pohon mampu berlari
dan bergerak dengan sayap dan kaki!
Takkan ia diberi kampak sebuah nyeri
dan rasa sakit dari gerak gergaji


Apabila mentari tak beranjak
di kala malam berarak
Bilakah setiap pagi
dunia jadi berseri?




Dan apabila air samudera
enggan berangkat ke angkasa
Tiada mungkin tumbuhan terhidupkan
oleh arus dan lembutnya hujan ?


Setetes yang beranjak dari tanah kelahiran
lautan, dan kembali pulang
Ia temukan sebuah kerang
berubah jadi mutiara yang cemerlang


Tidakkah Yusuf tinggalkan Bapaknya
dalam duka air mata dan putus asa?
Tidakkah ia dengan sebuah perjalanan
beroleh harta dan sebuah kerajaan?



Tidakkah Sang Rasul berjalan
ke Madinah yang jauh wahai kawan
Dan di sana ia dirikan kerajaan
serta kuasai negeri ratusan


Engkau kekurangan kaki untuk pergi?
maka berjalanlah kedalam dirimu sendiri
Dan bagai tambang sampah
yang tersinari mentari, cetaklah!
Dirimu keluar! Perjalanan demikian
membawa perubahan
dari debu jadi emas berkilauan

-Inilah Cinta by Maulana Jalaludin Rumi
translated by Me