Tuesday, 23 October 2012

Rahasia Awan

Awan,
apakah sejatinya kau memang hujan yg
tertahan?
Ataukah kau samudera yg menjemput langit yg
kau rindukan?
satu hal yg pasti, kau dan aku punya
kesamaan:
Kita konstan naik-turuni kehidupan
tersembunyi dalam milyaran perwujudan.

Nama-nama tak lagi punya makna
karena kata tak sepadan dengan rasa
biarkan bunga-bunga yg bicara
biarkan embun yg menyeru
diam-diam menyelipkan tanda seru
dibalik tanda tanya, ada apa dibalik putaran
lautan,
awan,
hujan,
dan keakuan
ku

Wednesday, 25 April 2012

Dari Tiada Menjadi Ada

Semua selalu dimulai dari kesederhanaan

Sebuah momen tak bernama yg berkuasa membekukan waktu

Membunyikan rindu diam-diam di antara kesibukan hati mengeja masa


Sesederhana itu apa yg

kurasa

Sesederhana birunya angkasa

Yg bahagia memeluk awan yg

merdeka

Sesederhana nafas kita

Dari tiada menjadi ada.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sunday, 12 February 2012

Gerimis di Sudut Mata

Lalu aku menjelma gerimis di

kala senja

Menitipkan rindu di selasela

kaca

Membagikan resah di

sudutsudut mata

tanpa kata


Published with Blogger-droid v2.0.4

Keramahan Hari Kemarin

Keramahan yg tak bertuan

hilang terbang menggenggam

waktu

Mungkin ke arah senja,

mungkin ke arah malam yg tak

bernama

Dua pasang mata hanya

mampu menerka

Karena ada suatu titik yg tak

mampu dijelajahi 'rasa'

Karena hari kemarin telah larut

dalam kecewa yg pekat

menjerat

Jatuh tak lagi bergeming, layu

dan kering.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Friday, 5 August 2011

Menyusuri Jejakmu

Harus berapa luka lagi terbuka sampai hatimu mau menyala


Dadaku lentera, dirundung dingin diremuk asa tak bernama


Suaramu makin sayup tak bermuara, harapku makin kuncup tak berwarna


Namun rasa ini terlalu ada untuk kubuang di selaksa masa


Namun rasa ini terlalu jiwa untuk ku raba


Namun rasa ini terlalu Aku untuk ku lupa


Aku tak mungkin mati berdiam diri,
karena kaulah yang mengandung segala makna yang kunanti


Aku tak mungkin hanyut dalam sunyi
karena kaulah musim semi, aku salju yang menari


Di sela-sela kebohongan, di altar-altar kata
kuraih manis ingatan, kupendam pahit di sudut mata


Masih juga kupahat lembut momentum saat kita bertatap muka
di segala penjuru waktu yang kutemu, di setiap keping harapan yang beku


Namun aku terlalu engkau untuk melanjutkan hasratku


Namun aku terlalu parau untuk terus menyusun rindu


Namun aku terlalu bangun untuk terlelap, dan berhenti menyusuri jejakmu.



Bandung 05 August 011.

Thursday, 4 August 2011

Alangkah Biru

Alangkah duka tegas bertanya-tanya
di kala malam tak pulang bawa cita
Alangkah pagi masih nyata
di kala hati enggan terluka

Alangkah engkau
Bagai murai di dahan kering
Aku angin, t'lah lama tak disapa canda
adakah ruang di rindumu untuk sekedar kita bertukar kata
aku terbata-bata
menahan rasa
tak terkata

Alangkah kaku waktu
memaku harap yang kian kelu
tak mampu, melukis citra dirimu

Alangkah biru
sendu
pilu.

4 August. 011

Wednesday, 3 August 2011

Cerita Terakhir

-Dalam pudar sketsa senyumnya masih setia harum nafasnya-
Garis wajahmu mengurung pandang dalam satu titik terkunci,
aku tak mungkin cari cerita lain lagi.

Bubarkan gerimis kelam lalu undang mereka lagi,
aku nyala api yang menari diatas lilin ketulusan,
bubarkan burung malam lalu undang penghuni pagi,
aku rindu sendiri dalam ruang tak berpenghuni.

Akankah jendela kamarnya kelak terbuka,
hatinya mengurung burung dara yang kecewa,
andai kunci luluh dan mengalah,
pasti ia akan terbang ke langit yang kulukis tanpa lelah.

Kau samudera ungu tanpa dasar,
jiwaku haru telak terjangkar.
Kau datang atau kau pergi,
aku tak mungkin cari cerita lain lagi.
Andai langitku karam tak kau layari,
lebih baik aku tenggelam dalam ruang tak berpenghuni,
ditemani wangi nafasmu dan burung malam yang cemburu.

Aku tak mungkin cari cerita lain lagi,
akan kulukis sketsa senyummu sampai pagi sudi kembali.



Bandung 02 august 011

Tuesday, 2 August 2011

Kekasih

Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk. Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
Dia menjawab, “Ini Aku.”
Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”
Pintu tetap tertutup
Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali
dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya, “Siapa di sana?”
Dia berkata, “Inilah Engkau.”
Maka, sang pintu pun terbuka untuknya.

Sunday, 31 July 2011

Rumah Kaca Tanpa Nama

Semut-semut merayapi kulit sunyi di bawah awan pekat dibelai angin yang berat
Daun-daun kering di jalanan kusam menuju sebuah pintu
Denting asa,

kelepak harap yang tadi pagi bertengger di jendela alit rumah kaca,
denting rasa, 
denting dusta, 
kelepak sayap yang tadi sore seputih cerah matanya.

Tinggal tersisa detik-detik yang berdecit malas mendorong nafas ragu-ragu, 

detak abu-abu, 
rebah satu-satu,
lelap buru-buru.

Malam jadi sekutu rindu yang tak tahu malu, mengurai jarak jadi guna-guna,

namun sia-sia menangkap makna, masih juga berlari tak tahu diri,
berharap dapat gantikan matahari pagi yang membasuh putih cerah matanya.

Kegelisahan tak beraturan menemukan rumahnya dalam kata-kata, rumah kaca tanpa nama, sebuah impromptu dalam bentuk kalimat yang beku.

Beku oleh rindu tak menentu.


31 juli 011

Friday, 15 July 2011

Antika

Dalam maya langkahku dosa, memungut warna menyulam jiwa
Kau kibar pelangi sendiri, tak satu langit pernah punyai

Aku cemburu pada kupu-kupu, aku cemburu bunga-bunga layu, aku cemburu jalanan kuyu

Tanpa perlu mengetuk rindu
Mereka mampu undang hatimu

Andai nafasku tinta, namamu lembar perangkap asa

Andai denyutku kata, pandangmu buka sekitab prosa
Andai senyummu dusta, aku tak mau tahu
Andai aku ada untuk kau rasa

Landai, landai harapku bertumpu sayu di landai haru

Memuji harum langkah pudarmu dikejar waktu
Adalah tak mungkin
Bagi debu bersanding ratu

Dadaku taman seribu kuncup rindu, kusulam senyum tanpa kata

Tataplah aku!
Dan baca yang kurasa!

- Untuk Antika -

15 juli 011
00.44 wib