Aku tenggelam dalam kesibukan
dan kau sembunyi dalam keraguan
aku menunggu yg tersisa padam sepenuhnya
kau menanti yg tak pasti wujud seutuhnya
aku adalah asap yg merangkak pergi
kau api yg mengurung diri
Kumpulan Puisi Refleksi Diri
Aku tenggelam dalam kesibukan
dan kau sembunyi dalam keraguan
aku menunggu yg tersisa padam sepenuhnya
kau menanti yg tak pasti wujud seutuhnya
aku adalah asap yg merangkak pergi
kau api yg mengurung diri
Bagai jaring laba-laba kau menangkap anganku diam-diam
Dalam kelengangan waktu aku titipkan sedaging harapku di ujung nafasmu
engkau dan aku akan mengurai hidup dan mati kita
kau hanya butuh satu sentuhan
dan aku hanya butuh satu reaksi
cinta tak minta saksi
dan aku tak pernah sanksi
luka akan menguliti rinduku dan
membiarkannya beku di satu fragmen hidupmu
tapi kita sama-sama tahu meski sama-sama tak setuju
aku dan kamu bertemu hanya sekedar untuk saling menitip pilu
entah karena rindu, entah karena mati,
bukan sebuah hal yg tabu, karena pilu bagai hujan yg tak diinginkan muda-mudi yg sedang menikmati hari,
tapi diam-diam hujan menumbuhkan bunga dan warna-warni yg pelan tapi pasti menuntun mereka memahami hidup dan mati,
bahasa rasa dan bahasa tanda jadi perantara kita, engkau dan aku jadi satu dalam luka dan sunyi ini
jadi mari lanjutkan, engkau dengan hasrat diam-diam,
dan aku dengan nyali remuk-redam.
Awan,
apakah sejatinya kau memang hujan yg
tertahan?
Ataukah kau samudera yg menjemput langit yg
kau rindukan?
satu hal yg pasti, kau dan aku punya
kesamaan:
Kita konstan naik-turuni kehidupan
tersembunyi dalam milyaran perwujudan.
Nama-nama tak lagi punya makna
karena kata tak sepadan dengan rasa
biarkan bunga-bunga yg bicara
biarkan embun yg menyeru
diam-diam menyelipkan tanda seru
dibalik tanda tanya, ada apa dibalik putaran
lautan,
awan,
hujan,
dan keakuan
ku
Semua selalu dimulai dari kesederhanaan
Sebuah momen tak bernama yg berkuasa membekukan waktu
Membunyikan rindu diam-diam di antara kesibukan hati mengeja masa
Sesederhana itu apa yg
kurasa
Sesederhana birunya angkasa
Yg bahagia memeluk awan yg
merdeka
Sesederhana nafas kita
Dari tiada menjadi ada.
Lalu aku menjelma gerimis di
kala senja
Menitipkan rindu di selasela
kaca
Membagikan resah di
sudutsudut mata
tanpa kata
Keramahan yg tak bertuan
hilang terbang menggenggam
waktu
Mungkin ke arah senja,
mungkin ke arah malam yg tak
bernama
Dua pasang mata hanya
mampu menerka
Karena ada suatu titik yg tak
mampu dijelajahi 'rasa'
Karena hari kemarin telah larut
dalam kecewa yg pekat
menjerat
Jatuh tak lagi bergeming, layu
dan kering.